Post 4 : STEROID

Apa itu steroid ?



Steroid adalah senyawa organik lemak sterol tidak terhidrolisis yang dapat dihasil reaksi penurunan dari terpena atau skualena. Steroid merupakan kelompok senyawa yang penting dengan struktur dasar sterana jenuh.

Asal Usul
Percobaan-percobaan biogenetik menunjukkan bahwa steroid yang terdapat dialam berasal dari triterpenoid. Steroid yang terdapat dalam jaringan hewan beasal dari triterpenoid lanosterol sedangkan yang terdapat dalam jaringan tumbuhan berasal dari triterpenoid sikloartenol setelah triterpenoid ini mengalami serentetan perubahan tertentu. tahap- tahap awal dari biosintesa steroid adalah sama bagi semua steroid alam yaitu pengubahan asam asetat melalui asam mevalonat dan skualen (suatu triterpenoid) menjadi lanosterol dan sikloartenol.
Percobaan dengan jaringan hati hewan, emnggunakan 2,3 epoksiskualen yang diberi tanda dengan isotop 180 menunjukkan bahwa isotop 180 itu digunakan untuk pembuatan lanosterol menghasilkan (180)- lanosterol radioaktif. Hasil percobaan ini membuktikan bahwa 2,3- epoksiskualen terlibat sebagai senyawa antara dalam biosintesa steroida. Molekul kolestrol terdiri atas tiga lingkar enam yang tersusun seperti fenantren dan terlebur dalam suatu lingkar lima. Hidrokarbon tetrasiklik jenuh yang mempunyai sistem lingkar demikian dan terdiri dari 17 atom karbon sering ditemukan pada banyak senyawa yang tergolong senyawa bahan alam yang disebut steroida.

Struktur Steroid
Steroid dapat didefinisikan oleh struktur kimianya. Kita melihat bahwa steroid adalah senyawa organik yang mengandung empat cincin atom karbon. Secara khusus, kita melihat bahwa semua steroid memiliki tiga cincin karbon 6-sisi dan satu cincin karbon 5 sisi.


Namun, steroid yang berbeda memiliki gugus fungsional yang terpasang berbeda. Kita ingat bahwa gugus fungsional adalah kelompok atom yang sering kita temukan bersama-sama yang memiliki perilaku tertentu. Ketika kita menempelkan gugus fungsional yang berbeda dengan cincin steroid dasar, kita mendapatkan steroid dengan fungsi yang berbeda. Kita akan berbicara tentang fungsi yang berbeda dari steroid nanti dalam artikel ini.

Tapi pertama-tama, kita menyebutkan bahwa steroid adalah senyawa organik, dan kita tahu bahwa senyawa organik harus mengandung karbon. Oleh karena itu, senyawa organik adalah hal-hal seperti karbohidrat, protein dan lipid. Bahkan, steroid diklasifikasikan dalam kelompok lipid. Ini agak menarik karena kita melihat bahwa struktur dasar steroid berbeda sedikit dari lemak yang lain seperti trigliserida atau fosfolipid. Namun, steroid masih memenuhi kategori ini karena, seperti lemak lainnya, steroid dibuat sebagian besar dari atom karbon dan hidrogen dan mereka tidak larut dalam air. 

Reaksi - reaksi
A.  Epimerisasi
Konformasi mempengaruhi kestabilan suatu struktur steroid. Pada sikloheksan monosiklik, kesetimbangan konformasi mudah dicapai, dimana substituent yang ukurannya lebih besar akan mengambil kedudukan ekuatorial. Pada kedudukan aksial, substituen R mengalami antaraksi tolak-menolak dengan dua atom hidrogen aksial, yang msing-masing terikat pada atom karbon nomor tiga dari atom karbon dimana gugus R terikat. Antaraksi tersebut menimbulkan tegangan molekul, namun tegangan tersebut dapat dihilangkan jika konformasi molekul berubah sehingga gugus R mengambil posisi ekuatorial. Pada steroid, perubahan konformasi tersebut tidak dapat dilakukan dengan leluasa, karena molekul steroid bersifat kompak.  Hasil epimerasi memberikan suatu campuran dengan epikolestanol, dimana kolestanol merupakan 90% dari campuran. Dengan memperhatikan kedua konfigurasi dari gugus hidroksil pada kolestanol yaitu ekuatorial sedangkan pada epikolestanol aksial, sehingga kestabilan kolestanol lebih tinggi dibanding epikolestanol.
B.  Reaksi esterifikasi
Hampir semua steroid alam mengandung gugus fungsi oksigen, misalnya gugus hidroksil pada karbon C3. Oleh karena itu, reaksi pada posisi yang mengandung gugus itu penting dalam pembahasan reaksi steroid. Berbagai reaksi esterifikasi yang lazim dikenal dapat pula digunakan dalam steroid. Kereaktifan suatu gugus hidroksil terhadap reaksi esterifikasi ditentukan oleh orientasi gugus itu, aksial atau ekuatorial, dimana gugus hidroksil yang ekuatorial lebih mudah diesterifikasi daripada gugus hidroksil yang aksial, yang terikat pada posisi yang sama. Perbedaan laju esterifikasi dipengaruhi oleh halangan ruang (faktor sterik) yang menghalangi terjadinya serangan pada gugus hidroksil itu.  Pada reaksi tersebut, esterifikasi hanya dapat terjadi pada salah satu dari dua gugus hidroksil, yakni pada gugus hidroksil ekuatorial yang terikat pada atom c-3. Hal ini disebabkan oleh, gugus hidroksil yang satu lagi (terikat pada atom c-6) mempunyai halangan ruang, karena halangan ruang ini, pembentukan senyawa kompleks transisi sukar terjadi, yang mengakibatkan gugus hidroksil ini tidak rekatif (Arifin, 1986).
C.  Hidrolisa ester steroid
Salah satu reaksi ester yang terpenting ialah hidrolisis dalam suasana basa (saponifikasi) yang menghasilkan alkohol. Hidrolisis ini biasanya dilakukan dengan jalan memanaskan ester steroid dengan natrium hidroksida atau kalium hidroksida dalam methanol atau etanol. Seperti pada esterifikasi, kereaktifan gugus ester dari molekul steroid terhadap hidrolisa tergantung pada konformasi dan keadaan lingkungan dari gugus itu. Umumnya, ester yang ekuatorial lebih mudah dihidrolisis daripada gugus ester yang aksial. Misalnya, laju hidrolisis dari 3β-asetoksi-5α-kolestan adalah tiga kali lebih besar dibanding 3α-asetoksi-5α-kolestan yang mempunyai gugus ester aksial (Arifin, 1986).
D.   Oksidasi steroid
Pada oksidasi alkohol sekunder dari steroid dengan asam kromat, gugus hidroksil yang aksial (mempunyai halangan ruang) lebih mudah dioksidasi daripada gugus hidroksil yang ekuatorial. Hal ini disebabkan oleh tahap reaksi yang menentukan laju oksidasi ialah serangan basa terhadap atom hidrogen dari gugus CH-OH setelah gugus ini membentuk ester kromat. Sebagai contoh dapat diambil perbandingan laju oksidasi dari kolestanol dan epikolestanol oleh asam kromat, dimana laju oksidasi epikolestanol adalah delapan kali kolestanol. Kecilnya laju oksidasi dari kolestanol disebabkan serangan terhadap atom hidrogen aksial dari gugus CH-OH pada C-3 yang mengalami halangan oleh antaraksi dengan atom-atom hidrogen aksial pada C-1 dan C-5. Sedangkan pada epikolestanol, atom hidrogen ekuatorial pada C-3 tidak mengalami halangan ruang sehingga mudah diserang (Arifin, 1986).
Isolasi dan pemurnian serta penentuan struktur
Isolasi mempunyai pengertian memisahkan sesuatu yang kita anggap penting dari bahan-bahan lain yang bersifat seperti kontaminan. Isolasi senyawa bahan alam baik yang berasal dari tumbuhan, hewan, mikroorganisme, biota laut, dan lain-lain dimaksudkan untuk memisahkan senyawa yang bermanfaat baik untuk kepentingan industri farmasi, kosmetika, pangan dan obat-obatan. Senyawa-senyawa tersebut umumnya disebut sebagai metabolit sekunder dan jumlahnya cukup kecil sehingga perlu diisolasi atau dipisahkan dari bagian-bagian lain atau senyawa-senyawa lain yang dianggap tidak penting.  Secara garis besar, proses isolasi dengan menggunakan metode Bioassay adalah sebagai berikut (Sudarma, 2014) :
Pemilihan sampel atau ekstrak yang aktif. Ekstraksi ulang sampel tumbuhan menggunakan pelarut organik yang sesuai. Ekstrak yang aktif, diisolasi kandungan kimianya menggunakan berbagai macam cara kromatografi. Pada tahap awalnya ekstrak akan terpisah menjadi fraksi-fraksi. Dimana satu fraksi kemungkinan masih mengandung berbagai senyawa kimia. Tiap fraksi kemungkinan masih mengandung berbagai senyawa kimia yang berbeda yang selanjutnya diuji bioaktivitasnya. Fraksi yang aktif terhadap bioassay dipilih untuk selanjutnya dipisahkan lagi menggunakan metode kromatografi. Cara ini berulang sampai akhirnya didapatkan senyawa murni yang mempunyai aktivitas farmakologis yang diinginkan. Senyawa murni yang diisolasi selanjutnya ditentukan struktur kimianya. Pengetahuan dasar yang diperlukan dalam proses penentuan struktur senyawa kimia adalah pengetahuan mengenai spektroskopi.
Steroid berperan penting bagi tubuh dalam menjaga keseimbangan garam, mengendalikan metabolisme dan meningkatkan fungsi organ seksual serta perbedaan fungsi biologis lainnya antara jenis kelamin. Tubuh manusia memproduksi steroid secara alami yang terlibat dalam berbagai proses metabolisme. Sebagai contoh steroid dari garam empedu, seperti garam deoksikolik, asam kholik dan glisin serta konjugat taurin yang berfungsi memperlancar proses pencernaan (Bhawani dkk., 2011). Berdasarkan sumbernya steroid dibedakan atas steroid sisntetis dan alami. Steroid sintetis yang umum digunakan adalah glukokortikosteroid, estrogen, metilprednisolon, kortikosteroid, androgen, squalamine dan hydrocortisone. Senyawa ini juga digunakan untuk pengobatan penyakit akibat kelebihan atau kekurangan hormon, penyakit berbahaya serta penyakit lainnya seperti radang sendi dan alergi (Bhawani dkk., 2011). Sterol tumbuhan yang telah lama dikenal adalah campesterol, stigmasterol dan β-sitosterol. Sterol ini menunjukkan efek menurunkan kolesterol dan antikarsinogenik. Efek antiangiogenik diduga melibatkan aksi senyawa tersebut sebagai antikanker (Choi dkk., 2007). Stigmasterol dimungkinkan untuk mencegah penyakit kanker tertentu, misalnya kanker ovarium, prostat, payudara dan kanker usus besar karena mempunyai potensi antioksidan, hipoglikemik dan mampu menghambat tiroid (Gabay dkk., 2010; Panda dkk., 2009). 

PERMASALAHAN:
1. Pada reaksi- reaksi yang ada dalam steroid, salah satunya ada reaksi Epimerisasi. Dimana, dalam reaksi ini terjadi antaraksi tolak menolak dengan dua atom hidrogen aksial. Jelaskan akibat dari antaraksi tersebut !
2. Apa penyebab Kecilnya laju oksidasi steroid dari kolestanol ? Jelaskan!
3. Jelaskan peran penting steroid bagi tubuh manusia?!
4. Jelaskan tahap reaksi steroid pada teripang?

Sekian blog sayaa, terimakasih:) semoga bermanfaat ya teman-teman. :D


Comments

  1. Hay iin , Saya Maya Rizkita akan mencoba menjawab permasalahan keempat,
    berdasarkan artikel yang saya baca,
    CARA ISOLASI
    Secara garis besar, isolasi senyawa steroid dari teripang terdiri dari dua tahap yakni mengekstraksi bagian lemak pada teripang, kemudian dilanjutkan dengan mengekstraksi senyawa steroidnya. Berikut merupakan salah satu penelitian yang dilakukan Sarifah Nurjanah, dkk (2009) untuk mengidentifikasi steroid teripang pasir (Holothuria scabra) yang ada di Indonesia.
    a. Prosedur
    Ekstraksi steroid teripang dilakukan dengan dua tahap, yaitu ekstraksi lemak kemudian dilanjutkan dengan ekstraksi steroid. Ekstraksi lemak dilakukan dengan pelarut aseton dengan cara maserasi, selanjutnya dilakukan proses penyabunan dengan menggunakan larutan KOH 1 M dan dilakukan refluks pada suhu 70⁰C selama 1 jam. Steroid diekstrak dengan menggunakan pelarut dietil eter.
    b. ldentifikasi senyawa steroid
    Identifikasi keberadaan senyawa steroid pada teripang dilakukan dengan reaksi warna menggunakan pereaksi liebermann burchard yang terdiri dari kloroform, asam asetat anhidrid dan asam sulfat pekat.
    Karakterisasi senyawa steroid
    Karakterisasi senyawa steroid teripang dilakukan dengan melihat bobot molekul dan struktur molekul menggunakan liquid chromatography-mass spectroscopy (LC-MS), nuclear magnetic resonance (NMR) dan fourier transform-infra red (FT-IR). LC-MS yang digunakan adalah Mariner Biospectrometry/ Perkin Elmer Series 200 dengan sistem ESI (Electrospray Ionisation), pelarut metanol dan air dengan perbandingan 8:2 (metanol:air) dengan menggunakan kolom C18 (RP 18) Vydac. FT-IR yang digunakan adalah IR Prestige-21 FT-IR Shimadzu dengan metode diffuse reflectance (DRS). Pengukuran spektra 1H NMR dan 13C NMR menggunakan NMR JNM-ECA 500 dengan pelarut CDCl3 (kloroform-D) dan TMS (tetramethylsylane) sebagai standar internal. Penentuan senyawa dan struktur molekul dilakukan dengan bantuan software DNP Chapman and Hall dan ChemOffice 2006.
    semoga dapat membantu ya....

    ReplyDelete
  2. Saya Dhea Ivontia akan mencoba menjawab permasalahan anda nomor 3 yaituJelaskan peran penting steroid bagi tubuh manusia!

    Steroid sintetis
    Ketika kita mendengar kata steroid, kita biasanya mengasosiasikannya dengan obat untuk meningkatkan kinerja. Beberapa orang mengambil steroid sintetis-siap untuk berbagai alasan, dan mereka yang tersedia sebagai pil, salep, inhaler, bubuk, dan dalam bentuk injeksi. Tapi steroid sintetis yang digunakan untuk tujuan medis juga, dan jenis yang paling akrab steroid sintetis kortikosteroid. Kortikosteroid seperti prednison, deksametason, dan prednisolon umumnya diresepkan untuk mengurangi peradangan. Kemampuan mereka untuk menekan peradangan telah membantu dalam pengobatan berbagai kondisi peradangan termasuk rheumatoid arthritis, PPOK, dan asma. Di sisi lain, secara komersial steroid anabolik yang dijual seperti HGH, Winstrol, THG, Genabol, Deca Durabolin-, Androstenedione, dan Anabol digunakan untuk meningkatkan kinerja dan membangun otot.

    Steroid Anabolik
    Steroid anabolik adalah hormon yang menampilkan aktivitas androgenik, dan fungsi yang sangat mirip dengan testosteron. Disintesis dalam testis dan ovarium, mereka merangsang sintesis protein dalam sel-sel otot rangka. Sederhananya, steroid anabolik, seperti hormon pertumbuhan, meningkatkan pertumbuhan otot dan membantu untuk mendapatkan otot yang lebih kuat. Mereka juga membantu dalam pengembangan dan pemeliharaan karakteristik maskulin.

    Steroid adrenal
    Steroid adrenal adalah hormon yang disekresikan oleh kelenjar adrenal. Organ-organ kelenjar terletak di dekat dengan ginjal. Untuk lebih spesifik, korteks adrenal, wilayah luar kelenjar adrenal terlibat dalam produksi hormon.
    Kortikosteroid merupakan hormon penting yang disekresikan oleh kelenjar adrenal yang langsung memasuki aliran darah. Berikut ini adalah jenis utama dari hormon kortikosteroid, yang dikeluarkan oleh kelenjar adrenal:

    Hidrokortison (Kortisol): Kortisol, juga dikenal sebagai glukokortikoid, memainkan peran kunci dalam menjaga tekanan darah dan mengatur metabolisme protein, lemak, dan karbohidrat. Hal ini juga disebut sebagai hormon stres karena dirilis dalam jumlah yang lebih tinggi ketika dihadapkan dengan stres fisik atau psikologis. Hal ini memainkan peran penting untuk mengatasi stres. Kortisol juga terlibat dalam konversi protein menjadi glukosa, yang membantu untuk meningkatkan perendaman kadar gula darah. Namun, kelebihan produksi kortisol justru dapat merusak sistem kekebalan tubuh.
    kortikosteron: Namun glukokortikoid lain, hormon ini penting untuk sintesis karbohidrat dan degradasi protein. Ini memberikan kontribusi dalam konversi asam amino menjadi karbohidrat, yang bertindak sebagai sumber utama tubuh bahan bakar. Hal ini juga membantu hati untuk mengeluarkan glikogen yang disimpan dalam otot dan digunakan untuk energi.
    Aldosteron: steroid adrenal ini milik kelas mineralokortikoid, membantu dalam menjaga tekanan darah. Hormon ini membantu dalam mengendalikan kadar natrium dan kalium dalam tubuh. Ia meminta ginjal untuk menyerap kembali natrium, kalium dan menghilangkan yang diperlukan dari urin, yang membantu dalam mengatur tekanan darah. Ini efek aldosteron pada ginjal juga membantu dalam menjaga kadar elektrolit yang tepat dan distribusi cairan yang tepat dalam tubuh.

    ReplyDelete
  3. Baiklah saya akan menjawab permasalahan no 2
    Kecilnya laju oksidasi dari kolestanol disebabkan serangan terhadap atom hidrogen aksial dari gugus CH-OH pada C-3 yang mengalami halangan oleh antaraksi dengan atom-atom hidrogen aksial pada C-1 dan C-5. Sedangkan pada epikolestanol, atom hidrogen ekuatorial pada C-3 tidak mengalami halangan ruang sehingga mudah diserang.

    ReplyDelete
  4. Saya akan menjawab permasalahan yang pertama
    Pada kedudukan aksial, substituen R mengalami antaraksi tolak-menolak dengan dua atom hidrogen aksial, yang masing-masing terikat pada atom karbon nomor tiga dari atom karbon dimana gugus R terikat. Antaraksi tersebut menimbulkan tegangan molekul, namun tegangan tersebut dapat dihilangkan jika konformasi molekul berubah sehingga gugus R mengambil posisi ekuatorial.

    ReplyDelete
  5. Saya akan menambah no 3
    Ketika kita mendengar kata steroid, kita biasanya mengasosiasikannya dengan obat untuk meningkatkan kinerja. Beberapa orang mengambil steroid sintetis-siap untuk berbagai alasan, dan mereka yang tersedia sebagai pil, salep, inhaler, bubuk, dan dalam bentuk injeksi. Tapi steroid sintetis yang digunakan untuk tujuan medis juga, dan jenis yang paling akrab steroid sintetis kortikosteroid. Kortikosteroid seperti prednison, deksametason, dan prednisolon umumnya diresepkan untuk mengurangi peradangan. Kemampuan mereka untuk menekan peradangan telah membantu dalam pengobatan berbagai kondisi peradangan termasuk rheumatoid arthritis, PPOK, dan asma. Di sisi lain, secara komersial steroid anabolik yang dijual seperti HGH, Winstrol, THG, Genabol, Deca Durabolin-, Androstenedione, dan Anabol digunakan untuk meningkatkan kinerja dan membangun otot.

    ReplyDelete

Post a Comment